G-Cans, Cara Jepang Menanggulangi Banjir

Wakil Ketua Harian Persada Sulel
Prof. Dr. Ir. Andi Iqbal Burhanuddin, M.Fish
        Banjir merupakan fenomena alam yang biasa terjadi di suatu kawasan yang banyak dialiri oleh aliran sungai.  Peristiwa tersebut  sering terjadi di banyak kota dalam skala yang berbeda dimana air dengan jumlah yang berlebih berada di daratan yang biasanya kering.  Keadaan itu biasanya diperparah oleh kurangnya penyimpanan air atau resapan air,  permasalahan tata kota, hingga curah hujan yang cukup tinggi. Meski tidak dipungkiri, bahwa banjir adalah salah satu bencana yang dapat terjadi sebagai efek dari perubahan iklim, ini tidak berarti tidak dapat ditanggulangi.  Kota Jakarta misalnya, kawasan perkotaan yang sejak tempo dulu, setiap musim hujan pada setiap tahunnya selalu di landa banjir. Sayangnya kejadian itu tidak diikuti dengan tindakan-tindakan pencegahan ataupun penanggulangan yang signifikan. Ketika banjir datang berulang, pemerintah kota yang seharusnya  memiliki kemampuan dalam antisipasi, pencegahan, serta penanganan yang makin baik dan canggih dari waktu ke waktu,  pada kenyataannya tidak lebih sigap dan cekatan dalam mengatisipasinya.


         Antisipasi  banjir ala Jepang Selain bencana alam gempa, topan dan tsunami, Jepang juga memiliki riwayat bencana banjir di masa lalu.  Sejak  tahun 1910 banjir besar melanda Jepang dan menimbulkan kerugian yang cukup besar.  Saat Taifun Kathleen menerjang Tokyo pada 1947 telah menghancurkan 31.000 rumah dan menewaskan 1.100 orang.  Kemudian tahun 1957 Taifun Kanogawa menjadikan jalanan, rumah, pertokoan dan kantor terendam karena curah hujan mencapai 400 mm selama sepekan.   Bencana masih terus terjadi. Pada tahun 1982, hujan lebat dan banjir besar di Pulau Kyushu  membuat rumah penduduk tergenang dan memutus aliran listrik dan air di 47.000 rumah di daerah bencana (infojapan.com).

        Jepang dengan kondisi geo-grafisnya yang hampir 70% merupakan daerah pegunungan dengan aliran sungai curam deras beresiko dan jarak ke laut yang pendek, mengharuskan Jepang berhadapan dengan banjir ketika terjadi curah hujan tinggi. Belajar dari sejumlah bencana yang terjadi, pemerintah Jepang telah mengembangkan infrastruktur mengatasi banjir.  Setelah tahun 1990-an, pemerintah  mengajak publik untuk mengelola sungai dan selama 15 tahun pemerintah dan publik telah menyelesaikan setidaknya 23.000 proyek restorasi daerah aliran sungai.   Selain perbaikan tata ruang kota dengan membangun area yang berfungsi sebagai waduk/penyimpan air ketika banjir terjadi,  Jepang juga memiliki fasilitas pengendalian banjir bawah tanah terbesar di dunia yang dibangun untuk mencegah meluapnya kanal dan sungai besar di kota itu sepanjang musim hujan dan badai,  khususnya di sekitar Tokyo, kota metropolitan yang rentan terkena gelombang saat badai.   Naiknya permukaan air laut juga memperparah dan mengakibatkan beberapa wilayah di ibu kota Jepang itu berada di bawah permukaan air laut.   Terlebih, curah hujan yang tinggi serta potensi kerusakan besar akibat gempa bumi dan tsunami semakin memperburuk keadaan.    Oleh karena itu,  pemerintah setempat kemudian berusaha menanggulangi bencana banjir dengan membangun kanal yang  digali di 50 meter di bawah tanah yang disebut Metropolitan Area Outer Underground Discharge Channel (MAOUDC), alias G-Cans, sebuah Kathedral raksasa yang ditopang 59 pilar beton dan dilengkapi dengan 78 pompa yang mampu memindahkan 200 ton air per detik,  ampuh mengurangi dua pertiga wilayah yang biasanya tergenang saat musim hujan.
     
         G-Cans adalah sistem drainase yang prinsipnya cukup sederhana. Air dari berbagai sudut kota akan dialirkan melalui sumur selebar sepuluh meter ke dalam lima kolam beton raksasa yang memiliki ketinggian 65 meter dan lebar 32 meter.    Melansir dari Japan info, Infrastruktur  tersebut berupa system kanal bawah tanah sepanjang 6,3 km dan ruang-ruang silindris yang mengalirkan air dari daerah rawan banjir ke lima pipa raksasa di bawah tanah, untuk kemudian dialirkan ke sungai melalui terowongan bawah tanah yang terhubung ke pipa-pipa raksasa tersebut.  Di kanal bawah tanah ini, dipasang 5 tangki (berbentuk seperti pipa) super raksasa masing-masing pipa disangga oleh sebuah pilar besar seberat 500 ton.   Terowongan penghubung dibuat di 50 meter di bawah tanah ini terhubung ke semua pipa raksasa, dan berujung ke sungai.  Sebelum berakhir di sungai, terowongan ini akan melalui tangki pengontrol. Tangki ini memiliki panjang 177 meter, lebar 78 meter dan berada di 22 meter di bawah tanah.   Salah satu fungsi tangki ini adalah untuk mengontrol kekuatan air dan juga menyesuaikan tekanan air saat ada masalah dengan pompa air.  Dengan kanal ini, air dapat dibuang ke sungai hingga 200 kubik per detik dan  dengan kecepatan ini, maka air akan cepat dialirkan ke sungai untuk selanjutnya menuju ke laut.  Kanal bawah tanah ini mulai dibangun tahun 1992 dan selesai tahun 2006 (sekitar 14 tahun) menghabiskan dana sekitar dua miliar Dollar AS atau sekitar 26 triliun Rupiah.
 
          Selain G-Cans MAOUDC, Tokyo juga membangun kanalisasi sungai bernama Furukawa Underground Regulating Reservoir. Kanal berupa lorong air tersebut ditanam 15 meter di bawah sungai Furukawa dan dibangun memanjang sesuai aliran sungai yang sangat membantu menegndalikan banjir di Tokyo. Dan tentu saja, kanal bawah tanah ini juga ditunjang oleh kondisi sungai yang baik, di mana aliran lancar karena tidak ada sampah dengan lebar sungai normal, sehingga air dapat lancar mengalir ke lautan.  Semoga pemerintah Indonesia ke depan bisa belajar bagaimana cara Jepang mengatasi banjir yang melanda negaranya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Putri Dari Salah Satu Anggota Persada Sulsel Berhasil Menjuarai Lomba Esai

Pak Nurdin Abdullah Dilantik Menjadi Ketua Persada

PSM Unhas Peduli Covid19 Untuk Jepang