Lebih Bersiap Sebelum Bencana


Muh Zulkifli Mochtar
Adalah warga Indonesia kelahiran Makassar. Doktor bidang Urban Engineering dari Osaka City Univrsity. Pengalaman dibidang industri, riset, renewable energi, juga smart community. Saat ini menetap di Tokyo, dan sudah bermukim di Jepang sekitar 13 tahun.

Alkisah :         

        Anak saya siswa SMP menyiapkan dua tas ransel diisi senter, sandal plastik, masker, sendok garpu, dan banyak lagi. Kedua tas diletakkan didekat pintu depan rumah. Untuk jaga jaga jika ada gempa, katanya. Saya cross check ke istri, ternyata sekolah yang menganjurkan. Di sekolah ternyata sudah punya persiapan sama, lengkap dengan makanan kecilnya. Siap untuk tindakan evakuasi. Menurut anak, setiap bulan ada latihan penyelamatan bencana di sekolah. Terkadang ada undangan khusus buat orang tua untuk ikut juga.

        Pendapat dunia bahwa Jepang adalah salah satu negara yang paling bersiap menghadapi bencana, mungkin tidak salah. Semenjak tahun 2007, earthquake warning sistem diberlakukan secara nasional mendeteksi getaran dan mengirim warning ke semua ponsel. Sistem alert memanfaatkan selisih waktu gelombang P (pressure) yang terjadi lebih dahulu dan gelombang S (shear) yang muncul kemudian. Ketika gempa Tohoku magnitude 9.0 tahun 2011 terjadi di laut Jepang jam 14;46, beberapa detik setelahnya pesan dari Badan Meteorologi Jepang (JMA) terkirim ke semua ponsel untuk segera menyelamatkan diri menjelang kedatangan gelombang S yang sifatnya destruktif. Banyak siswa sekolah dan mahasiswa universitas di Tohoku berhasil menyelamatkan diri. Damage dipastikan lebih besar tanpa sistem ini.

          Untuk antisipasi banjir, topan dan sungai meluap, kota Tokyo sejak lama merintis membangun Outer Underground Discharge Channel, semacam terowongan tangki air raksasa bawah tanah yang merupakan pertahanan utama Tokyo menghadapi banjir. Proyek start tahun 1992 secara konsisten dan komplet tahun 2006. Menurut Takumi Kiyamoto di Nikkei Asian Review, ketika mega Topan Hagibis skala 955hPa disertai hujan lebat 750 mm menghantam Tokyo 12 Oktober tahun lalu, terowongan tangki ini berfungsi baik. Puluhan juta ton air dari sungai Nakagawa, Kuramatsu, dan Komatsu – tiga anak sungai dari Tonegawa dialihkan ke terowongan kemudian dipompa ke Sungai Edogawa yang lebih akomodatif. Menurut pemerintah, berkat terowongan ini, damage banjir lebih ringan dibanding ketika topan skala sama Judy typhoon terjadi ditahun 1982.

          Menurut BKMG, salah satu penyebab banjir Jakarta awal tahun baru ini adalah intensitas hujan mencapai 377 mm/hari. Pantas saja terjadi banjir besar. Cuma, ada satu suasana yang sedikit berbeda terasa. Di Jepang satu minggu sebelum hujan lebat atau topan menyerang, media selalu ramai memberitakan. Gambaran skala dan potensi efek topan sudah viral menyebar luas. Masyarakat seakan disuruh bersiap. Sekolah, perusahaan kereta, hotel, restoran, convenience store sudah mempersiapkan diri jauh hari. Perusahaan banyak meliburkan karyawannya. Siaga satu sangat terasa. Saat Hagibis tiba, Tokyo ibarat kota mati, seakan merapatkan barisan berlindung di benteng pertahanan menghadapi gempuran. Tiga jam setelah topan dan hujan deras berlalu, kereta, restoran, mall pun segera beroperasi lagi karena sudah menyiapkan tindakan recovery sebelumnya.

           Sebelum hujan dan banjir Jabodetabek, suasana siaga satu ini tidak terasa. Media pun hanya memberitakan sekilas tentang prediksi hujan. Padahal kita semestinya tahu bahwa intensitas hujan sangat spesial, menurut BKMG tertinggi sejak 154 tahun lalu. Saat terjadi banjir, baru suasana foto banjir menjadi viral. Komentar komentar tentang perlunya persiapan dan mitigasi bencana pun mendadak meluncur deras.

          Saya pun teringat ransel anak saya. Harus kita akui, spirit persiapan kita menghadapi bencana masih beda level dibanding mereka.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Putri Dari Salah Satu Anggota Persada Sulsel Berhasil Menjuarai Lomba Esai

Pak Nurdin Abdullah Dilantik Menjadi Ketua Persada

PSM Unhas Peduli Covid19 Untuk Jepang